Logo Komunitas SLiMS Pacitan | Komunitas Mahasiswa Ilmu Perpustakaan | D2 Ilmu Perpustakaan Pokjar Pacitan

Akhirnya terwujud juga untuk membuat sebuah LOGO Komunitas SLiMS Pacitan.
Dengan berbagai upaya perpaduan warna , logo yang dibuat oleh Kul De Sak
(Icha Kembar) ini membuat saya tergugah dna semangat untuk mendirikan sebuah komunitas SLiMS Pacitan. Apa itu SLiMS ..? pasti sudah tag asing lagi di telinga kalian. SLiMS adalah singkatan dari Senayan Library Management System.
Kenapa Komunitas ini harus dibuat ?
Menurut saya, sangat lah perlu komunitas ini dibuat , dengan dorongan sebuah komunitas, calon pustakawan / pustakawan sendiri akan jauh lebih tau tentang Ilmu Perpustakaan dan Informasi, sebab pustakawan di waktu ini sangat berhubungan erat dengan media teknologi ( ujar Bp. Sarifudin selaku Sekretaris Perpustakaan Universitas Brawijaya).

Komunitas ini berdiri dengan banyak dukungan dari Dosen UT dan juga dari Komunitas-Komunitas SLiMS yang udah berdiri.
Semoga dengan adanya media yang bermanfaat ini, Komunitas SLiMS Pacitan makin maju dna dapat diresmikan secara Publik.
o

7 Tips menulis artikel

7 Tips Menulis Artikel Yang Menarik – Menulis artikel yang bagus dan baik di blog memang merupakan tantangan yang tidak mudah bagi seorang blogger. Sebuah artikel yang kita tulis setidaknya harus mengandung 2 elemen kunci yang bisa membuat pembaca “tergerak” atau “sudi” untuk membacanya. 2 elemen tersebut yaitu bagus dan menarik. Artikel yang bagus berarti baik secara isi dan kualitas serta dapat memberikan manfaat bagi pembacanya. Sedangkan artikel yang menarik berarti kita melihat bagaimana artikel tersebut dikemas dengan judul dan gaya bahasa yang enak dibaca dan interaktif. Berikut ini beberapa tips yang mungkin bisa anda coba dalam membuat atau menulis sebuah artikel sehingga mampu menjadi artikel yang bagus dan menarik seperti yang saya definisikan diatas.

7 Tips Menulis Artikel Yang Baik dan Menarik

1.Bangga dengan hasil tulisan sendiri
Kenapa saya menempatkan hal ini pada urutan pertama? Karena sangat berhubungan dengan mentalitas kita sebagai seorang blogger yang ingin menjadi penulis yang baik. Baru-baru ini saya menemukan artikel saya 5 Penyebab Blog Sepi Pengunjung yang dipublish ulang disebuah blog dengan judul Alasan dan Penyebab Blog Sepi Pengunjung. Pada bagian bawah artikel terdapat tulisan “Artikel ini saya kutip dari http://www.rayhanzhampiet.com/2012/05/5-penyebab-blog-sepi-pengunjung.html dengan sedikit perubahan”. Sang blogger mengatakan bahwa dia telah melakukan sedikit perubahan, tapi kalau saya baca dari awal sampai akhir artikel itu 99,99% copas !! Yang dirubah hanyalah menghapus semua internal link yang saya buat dalam artikel dan mengganti screenshot image yang saya gunakan pada artikel tersebut. Bisakah kita memiliki kebanggaan kalau kita melakukan hal seperti ini ? Saya pribadi tidak akan memiliki kebanggaan jika menjadi tukang copas, namun saya tetap akan bangga meskipun tulisan murni karya saya dikritik, dihina atau dicemooh orang lain karena saya sudah pernah mengalami sendiri diawal ngeblog konten saya disebut tidak bermutu dan konten basi !! Jadi mulailah start awal untuk menjadi seorang penulis yang bangga dengan hasil karya anda sendiri.

2.Ketahui dan pelajari bagaimana cara menemukan elemen “Bagus”
Untuk bisa membuat atau menulis artikel yang bagus dari sisi materi atau isi artikel, ada baiknya kita harus mencoba melakukan riset kecil-kecilan. Contohnya sebelum menulis artikel ini saya mencoba mengetikkan 4 phrase kata yang berbeda untuk menemukan sumber referensi tulisan. Kata kunci yang saya gunakan di Google adalah tips membuat artikel, tips menulis artikel menarik, tips menulis artikel yang bagus dan tips menulis artikel di blog. Setelah menemukan beberapa referensi kemudian saya mencoba membaca berulang-ulang, memahami apa isi tulisan dan selanjutnya mengolah kembali dari apa yang saya pahami dan menuliskannya kembali dengan bahasa dan gaya menulis sendiri sehingga akhirnya jadilah artikel yang sedang anda baca ini. Melakukan riset seperti ini penting untuk dilakukan supaya artikel yang ditulis berbobot, tidak ngawur atau asal-asalan dan isinya dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun perlu waktu 2-3 jam untuk menulis sendiri, sekali lagi saya lebih bangga ketimbang hanya perlu waktu 2-3 menit untuk jadi tukang copas.

3.Ketahui pula bagaimana membuat artikel jadi “Menarik”
Sebuah blog laksana sebuah toko atau kios yang menjual barang-barang dagangannya. Yang kita “jual” di blog adalah konten atau artikel itu sendiri. Saya sering juga mengatakan “buatlah sebuah konten/artikel sederhana menjadi menarik untuk dibaca”. Yang saya maksud disini adalah bagaimana kita mengemas sebuah artikel sehingga orang yang baru membaca judulnya saja langsung tertarik untuk membacanya. Saya yakin kripik singkong yang dikemas dengan kemasan plastik serta diberi label atau merk dengan tulisan dan gambar yang menarik akan lebih laku ketimbang kripik singkong yang dijual hanya dengan kemasan plastik tipis transparan biasa. Ini sebuah perumpamaan atau analogi yang sama yang dapat kita terapkan dalam menuliskan sebuah artikel yang menarik. Selain mengemas artikel dengan judul-judul yang menarik, gaya bahasa penulisan juga harus diperhatikan jangan menggunakan bahasa yang sulit untuk dipahami. Jika anda menggunakan istilah-istilah tertentu dalam artikel, berikanlah penjelasan atau arti dari istilah tersebut sehingga tidak menimbulkan kebingungan dan tanda tanya bagi pembaca. Berikan perhatian khusus pada paragraph pertama yang anda tulis, karena paragraph awal tulisan menjadi fokus pertama pembaca sebelum dia memutuskan melanjutkan membaca atau tidak. Buatlah kegiatan menulis seperti anda sedang bercerita kepada teman atau sahabat, sehingga bahasa tulisan pun akan mengalir begitu saja dan pada akhirnya anda akan punya style menulis sendiri. Meskipun sedang memejamkan mata saat mendengar lagu PUSPA saya langsung tahu yang menyanyikannya adalah Charly ST12, saya hanya mengenali dari karakter suara yang masuk ke indera pendengaran.

4.Bahasa gambar mampu mewakili bahasa tulisan
Terkadang dalam sebuah artikel kita “diharuskan” untuk memasukkan image atau gambar supaya bisa membantu pembaca untuk lebih memahami apa yang anda tulis. Dengan demikian tujuan kita untuk membuat artikel tadi benar-benar menarik, informative dan komunikatif akan tercapai. Karena ternyata bahasa gambar mampu menjadi alat transfer ilmu yang anda sampaikan. Seperti artikel-artikel tutorial yang saya tulis, saya selalu berusaha untuk menambahkan screenshot imageuntuk memperjelas artikel yang saya tulis dengan bahasa verbal. Kalau pengunjung sudah merasa puas dengan hanya membaca artikel yang ada di blog anda, maka bukan tidak mungkin jika besok, lusa atau hari-hari lainnya pengunjung tersebut akan datang kembali meskipun hanya sekedar ngabsen doang..he he.

5.Gunakanlah pengalaman pribadi sebagai bahan tulisan
Pada kasus tertentu, menulis sebuah artikel berdasarkan pengalaman pribadi akan lebih mampu menjadi sumber data yang valid karena anda sudah pernah mengalaminya. Bahasa tulisan yang keluar dari pengalaman pribadi akan mengalir lancar dengan sendirinya. Seperti halnya saya menuliskan artikel Cara Menampilkan Rating Bintang yang berawal dari kesulitan saya dalam mempraktekkan tips tersebut dan akhirnya mampu memecahkan masalahnya sendiri. Walhasil artikel tersebut harus saya bagi dalam 2 bagian artikel saking panjangnya karena terlalu bersemangat untuk menulis ggkkk.

6.Perhatikan penataan tulisan artikel
Hal sepele yang kadang luput dari perhatian adalah perataan teks artikel. Penting sekali bagi anda untuk selalu menggunakan perataan teks justify sehingga tampilan tepi kiri dan kanan artikel terlihat rata dan rapi. Jika anda sudah familiar menggunakan bahasa HTML, gunakanlah orderlist atau unorderlist untuk teks-teks tertentu. Atau anda juga dapat menggunakan blockquote untuk menuliskan script atau tag HTML pada artikel blogging.

-tips-menulis-artikel-

7.Luangkan waktu untuk mengedit artikel
Manusia tak luput dari salah, begitu pula halnya dengan tulisan yang kita buat. Untuk itu luangkanlah sejenak waktu anda untuk memeriksa kembali paragraph atau kalimat-kalimat yang sudah anda tuliskan siapa tahu ada kesalahan. Mengedit artikel sebaiknya dilakukan sebelum mempublish artikel tersebut. Namun jika anda tidak punya banyak waktu periksalah artikel anda 1 atau 2 hari kemudian. Kesalahan-kesalahan kata atau penulisan yang tidak tepat pada paragraph awal tulisan akan berpengaruh besar pada hasil indeks artikel dan bagaimana halaman artikel tersebut ditampilkan di hasil pencarian Google.

Sosialisasi Peran dan Fungsi Perpustakaan: Perpustakaan Sumber Ilmu, Bukan Gudang Buku

ontianak, Kalimantan Barat—Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menyadari bahwa upaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perpustakaan dan pembudayaan kegemaran membaca masih berupa jalan mendaki. Persoalan membaca menurut salah seorang akademisi sudah merupakan problem manusia sejak dulu. Selama itu pula program untuk mengajak masyarakat membaca tidak akan pernah habis.
Banyak cara dilakukan Perpusnas dalam upayanya tersebut, mulai dari publikasi, promosi, sosialisasi, pagelaran roadshow perpusnas di kota-kota besar hingga penganugerahan Nugra Jasadarma Pustaloka kepada para tokoh dan pejuang perpustakaan.

Menurut Ketua Penyelenggara Ofy Sofiana, Pontianak, menjadi kota selanjutnya yang dikunjungi Perpusnas dalam rangka mensoalisasikan peran dan fungsi perpustakaan, Selasa, (4/12). Kegiatan yang berlangsung di Grand Ballroom Hotel Grand Mahkota menghadirkan pembicara Kepala Perpustakaan Nasional Sri Sularsih, Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar Nicodemus R. Toun, Kepala Badan Perpustakaan (BPAD) Provinsi Kalbar Marselinus Kutjai Apin, dan Dosen Komunikasi Universitas Tanjungpura Netty Herawati dengan moderator Mulyanto Maharani, penyiar RRI Pontianak. Kegiatan sosialisasi dihadiri oleh sedikitnya 150 utusan Kepala Dinas Pendidikan, KPAD kabupaten/kota, Kepala Sekolah, dan perwakilan Taman Baca se-provinsi Kalbar.

Ofy Sofiana mengatakan tujuan diselenggarakan sosialisasi peran dan fungsi perpustakaan untuk menyatukan visi dan misi dalam tindaklanjut gerakan nasional Indonesia membaca yang dicanangkan Wakil Presiden Boediono pada 27 Oktober 2011 lalu, dan juga sebagai sarana publikasi dalam pengembangan perpustakaan di seluruh tanah air.

Sementara Kepala Badan Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Kalbar Kutjai Apin mengungkapkan di tengah kuatnya arus modernisasi, pembudayaan kegemaran membaca kerap kali menemui batu sandungan. Perpustakaan sebagai salah satu elemen penting dalam kesuksesan pembudayaan kegemaran membaca masih dipandang sebelah mata. Akibatnya, tingkat literasi masyarakat masih dibawah standar. “Minat baca masyarakat masih rendah. Belum tumbuh dengan baik sebagai kebutuhan informasi,” ungkap Kutjai Apin. Ia mengharapkan peran keluarga sebagai objek pendidikan membaca sejak dini. Gubernur Kalbar sejak 28 Oktober 2010 telah mencanangkan program ‘Kalimantan Barat Membaca’ yang diikuti oleh seluruh Bupati dan Walikota.

Di akui, masyarakat Indonesia belum memiliki minat baca yang baik. Temuan data dari Badan Pusat Statistik di tahun 2009 menunjukkan indikasi minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah. Buku, belum menjadi sumber utama untuk mendapatkan informasi. Rendahnya budaya membaca juga dirasakan para pelajar dan mahasiswa. Perpustakaan—baik di sekolah maupun di kampus—jarang dimanfaatkan secara optimal oleh siswa dan mahasiswa. Pun demikian yang terjadi pada perpustakaan-perpustakaan di daerah yang minim pengunjung.

Perpustakaan, sebagai wahana transformasi ilmu dianggap kurang memotivasi masyarakat untuk mau membaca. Lingkungan masyarakat yang acuh turut memperparah kondisi minimnya antusias masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. DPRD Provinsi Kalbar menyatakan siap mendukung segala program untuk memajukan perpustakaan. “Kami siap!”, imbuh Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalbar Nicodemus. Namun, ia meminta agar ketersediaan koleksi juga diperhatikan. Jangan itu-itu saja.

Perpustakaan yang mampu memodernisasi dirinya adalah tuntutan kekinian yang mesti diperbuat demi memenuhi ekspektasi masyarakat agar keterpurukan tidak terus berlanjut. Salah satu caranya, yaitu dengan mengembangkan layanan perpustakaan digital (E-Lib), selain tetap mempertahankan tradisi layanan konvensional yang selama ini dikenal. Proyek pengembangan E-Lib telah menyasar di 31 provinsi.
Mewujudkan masyarakat cerdas adalah bagian dari target menuju Indonesia sejahtera yang bisa dicapai lewat jalur pendidikan—formal maupun non formal. Di dalam masyarakat yang cerdas tentunya memiliki masyarakat yang berbudaya membaca. “Masyarakat yang terbiasa membaca merupakan garansi bagi proses kreatifitas, inovasi dan kemandirian,” ujar Kepala Perpusnas Sri Sularsih.

Menciptakan masyarakat pembaca memerlukan sarana dan prasarana yang memadai. Keberadaan mobil perpustakaan keliling, kapal perpustakaan, mobil perpustakaan elektronik keliling (pusteling), serta pendirian perpustakaan di berbagai sektor kehidupan, masyarakat pesisir, daerah perbatasan hingga pulau-pulau terluar diharapkan turut memicu tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk membaca. “Kalau tidak mampu membeli bahan bacaan, kita yang akan sediakan,” tegas Sri Sularsih. Perpustakaan menjadi urusan wajib yang mesti dilaksanakan pemerintah (pusat/daerah) sesuai mandat Undang-Undang.

Khusus di level pendidikan, pengembangan perpustakaan beserta koleksi harus terus dilakukan agar merangsang siswa datang ke perpustakaan. Sekolah wajib menyisihkan 5% dari anggaran operasional untuk pengembangannya. Parameter kualitas bangsa dilihat dari kondisi pendidikannya dan tidak lepas dari pentingnya membaca. Ilmu-ilmu yang ada dalam referensi sebuah buku, hanya bisa diperoleh dari membaca.

Pendapat senada diutarakan Guru Besar Fikom Universitas Tanjung Pura Netty Herawati. Ia mencontohkan negara Jepang, dimana masyarakat disana memiliki etos membaca tinggi. Di setiap kesempatan luang, mereka aktifkan dengan membaca. Aktivitas tersebut mereka lakukan tanpa sungkan. Lewat buku, kita mengetahui segala hal yang belum diketahui. Buku, merupakan alat (tools) bagi manusia berpikir dan bertindak kreatif. Jadikan perpustakaan sebagai sumber ilmu pengetahuan, bukan gudang buku.****

Sumber: Hartoyo Darmawan

Perpustakaan Digital Di Indonesia: sebuah pandangan

Oleh : Sulistyo-Basuki

Pengajar Program Pascasarjana di Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan UIN Sunan Kalijaga. e-mail: sbasuki@indosat.net.id)

Disampaikan dalam Seminar Nasional Ilmu Perpustakaan Undip di Semarang tanggal 5 Mei 2011, diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Undip

Pendahuluan

GagasanVannevar Bush mengenai mesin Memex merupakan gagasan awal perpustakaan digital dalam karangan tersebut dinyatakan bahwa dengan menyentuh sebuah tombol saja maka seorang pemakai dapat mencari informasi yang diinginkannya (Bush, 1945). Gagasan itu berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Dengan masuknya komputer ke perpustakaan, maka perpustakaan beranjak ke automasi perpustakaan selanjutnya mengembangkan pangkalan data. Pangkalan digunakan pemakai dalam bentuk temu balik terpasang (sambung jarring,online) serta sistem akses public. Kedua ciri tersebut merupakan bagian sehari-hari dari kegiatan perpustakaan. Tatkala komputer dihubungkan dengan jaringan yang besar membentuk Internet, maka muncul gagasan perpustakaan digital yang dapat diakses dari seluruh penjuru dunia. Muncullah istilah perpustakaan maya, perpustakaan elektronik, perpustakaan tanpa tembok dan perpustakaan digital. Untuk memahami konsep sebutan tersebut, digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan definisi dan pendekatan citri, namun sebelum itu perlu dipahami hal-hal yang sering dirancukan dengan perpustakaan digital.

Hal yang perlu dipahami

Sebelum melanjutkan ke perpustakaan digital di Indonesia, ada baiknya kita memahami beberapa pemahaman. Pemahaman pertama perpustakaan terautomasi bukanlah perpustakaan digital. Sebuah perpustakaanyang mendayagunakan teknologi informasi (TI) atau teknologi informasi dan komunikasi untuk melakasanakan aktivitas perpustakaan, bukanlah perpustakaan digital. Kegiatan aplikasi TI pada perpustakaan menghasilkan automasi perpustakaan artinya penggunaan teknologi yang lebih dominan daripada manusia dalam kegiatannya. Misalnya bagian sirkulasi cukup memindai nomor ISBN atau nomor unik buku (misalnya 2778/1999) ke komputer, selanjutnya komputer yang akan mengolah lebih lanjut. Demikian juga waktu peminjaman, nomor ISBN atau nomor unik cukup dipindai, selanjutnya komputer yang mengolahnya, termasuk misalnyaa pakah ada kelambatan pengembalian buku; bila ada, berapa dendanya, dimasukkan ke anggaran siapa. Automasi lebih lanjut dari sistem sirkulasi adalah penggunaan RFID (Radio Frequency Identication), berupa pencantuman cip berfrekeunsi tertentu sebagai alat pemantau peminjamand an pengembalian. RFID sudah digunakan di Jawa Tengah antara lain di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sampai saat ini RFID masih terbatas pada materi cetak, sementara untuk materi elektronik seperti DVD VD,CD ROM masih terbatas[2].

Pemahaman kedua, perpustakaan yang sudah memikiki fasilitas Internet bukanlah

perpustakaan digital. Ada anggapan masyarakat termasuk pemangku kepentingan seperti kepala sekolah, Dinas Pendidikan, pejabat pemerintah bahwa bila internet sudah diinstal, maka perpustakaan tersebut sudah merupakan perpustakan digital. Fasilitas Internet memungkinkan pemakai (atau pemustaka menurut UU no. 43 tahun 2007) menggunakan Intternet untuk berbagai keperluan seperti menelusur,ngobrol (chatting) kirim surat elektronik,mengunduh berkas. Fasilitas Internet bisaa saja diinstal di perpustakaan tradisional tanpa menjadikan perpustakaan tersebut perpustakaan digital.

Pemahaman ketiga, penjaja pangkalan data atau pemasok dokumen komersial, pangkalan data serta jasa pengantaran dokumen elektronik serta perpustakaan digital miliknya bukanlah perpustakaan digital. Maka bila perpustakaan melanggana sebuah penjaja seperti ProQuest atau EBSCO, maka perpustakaan tersebut tidak dapat disebut perpustakaan digital.

Pemahaman keempat¸ sistem manajemen dokumen yang mengolah dokumen bisnis dalam bentuk dokumen elektroniktidak dapat disebut perpustakaan digital. Sistem tersebut merupakan manajemen rekod, bukan perpustakaan.

Pemahaman perpustakaan digital

Pemahaman perpustakaan digital dapat dilihat dari definisi mau pun dari segi karakteristiknya. Walaupun memiliki kesamaan dalam istilah digital, definisi perpustakaan digital tidaklah seragam. Dari segi etimologi, perpustakaan sebagai kumpulan pustaka (buku), maka sebuah perpustakaan dalam bahasa modern dapat bermakna kumpulan apa saja misalnya perangkat lunak.

Pendekatan definisi

Setiap perpustakaan berbeda, setiap perpustakaan digital berlainan dan berbagai penulis mengajukan berbagai definisi mengenai perpustakaan digital. Misalnya Arms (2000, ) memberikan definisi perpustakaan digital sebagai berikut:

A managed collection of information, with associated services where the

information is stored in digital formats and accessible over a network. A crucial part of this definition is that the information is managed

Digital Library Federation dari AS mengatakan bahwa

“Digital libraries are organizations that provide the resources, including
the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to,
interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence
over time of collections of digital works so that they are readily and
economically available for use by a defined community or set of
communities.” http://www.clir.org/diglib/about/strategic.htm.%5BAkses Oktober 2002) (Greenstein, 2000)

Perpustakaan elektronik

Dalam berbagai literatur tidak semua pihak menyetujui istilah perpustakaan digital, ada yang menyebutnya sebagai perpustakaan elektronik (Rowley 1998). Oppenheim (1997) menyatakannya sebagai

An organized and managed collection of information in a variety of media

(text, still image, moving image, sound, or combinatios thereof), but all in digital form.

Koleksi diorganisasi dan dikelola untuk kepentingan populasi pemakai aktual atau potensial, dan lazimnya distruktur untuk memudahkan akses ke isinya. Biasanya, perpustakaan elektronik meliputi sejumlah alat bantu teklusur atau navigasi yang akan beroperasi di perpustakaan dan memungkinkan akses ke koleksi infomasi yang dihubungkan dengan jaringan sedunia (Rowley 1998)

Perpustakaan hibrida

Penulis lain seperti Corrall & Brewester (1999) berpendapat bahwa

karena perpustakaan digital juga mencakup koleksi cetak yang diwujudkan dalam bentuk data analog maka mereka menyebutnya sebagai perpustakaan hibrida (hybrid libraries). Rusbridge (1998) mengatakan

Hybrid libraries are designed to bring a range of technologies from

different sources together in the context of a working library, and also to begin to explore integrated systems and services in both the electronic and print environments

Dengan kata lain pada perpustakaan hibrida, sumber elektrobnik atau artefak digital digunakan bersama-sama sumber teercetak (heritage materials) sehingga jasa informasi merupakan campuran media tradisional dan media lebih baru. Anggapan adanya perpustakaan hibrida diperkuat oleh kenyataan bahwa tidak semua perpustakaaan akan didigitalisasikan sehingga tidak mengherankan bila Bropy (2001) menyebutnya sebagai “complex libraries.” Keberadaan perpustakaan hibrida bukan merupakan sebuah fase transisi melainkan lebih merupakan model tersendiri.

Perpustakaan maya

Istilah yang berkembang ialah perpustakaan maya (virtual library) namun demikian ada yang berpendapat bahwa secara semantik istilah virtual berbeda dengan istilah digital library (Koeneman 2002). Perpustakaan maya mencoba menciptaulang pengalaman sebuah perpustakaan dalam format elektronik sedangkan perpustakaan digital memusatkan pada penciptaan dan akses ke koleksi elektronik (suara, teks atau citra) dengan menggunakan berbagai teknologi informasi. Koleksi digital memegang peran lebih penting daripada aspek maya atau portal.

Perpustakaan tanpa tembok (libraries without wall)

Definisi mengarah pada pengertian bahwa pemakai dapat mengakses koleksi di perpustakaan lain di luar dinding tempat pemakai berada, bahkan dalam beberapa hal pemakai dapat mengunduh[3] (download) teks atau berkas. Jadi seorang pemakai yang berada di Kendal dapat mengakses koleksi perpustakaan di Jerman atau Pakistan atau tempat lain.

Dari segi ciri

Bila dilihat dari segi notion, maka syarat perpustakaan digital bila memenuhi syarat sebagai berikut:

Perpustakaan digital merupakan wajah digital dari perpustakaan digital, jadi mencakup koleksi digital dan koleksi tradisional, disebut pula koleksi media campuran ( Cleveland, 1998)
Perpustakaan digital juga mencakup koleksi materi digital yang eksis di luar batas fisik dan administrative sebuah perpustakaan digital. Karena itu US Digital Library Federation mennyebutkan perpustakaan digital sebagai sebuah organisasi yang terdiri dari beberapa perpustakaan digital, jadi tidak terbatssd pada satu perpustakaan digital saja
Pemakai yang dapat tersebar dan beranekaragam namun berminat pada koleksi perpustakaan. Perpustakaan digital melayani komunitas pemakai, namun tidak terbatass pada kawasan administrative sebuah perpustakaan melainkan meluas ke seluruh dunia.
Tenaga perpustakaan yang kurang berperan dalam pengantaran jasa, menggantinya degan interaksi langsung dengan pemakai melalui pengembangan jasa digital dan rancangbangun (desain) antarmuka (Chouwdhury, 2008).

Dalam benak masyarakat dan juga pustakawan, bila menjumpai istilah perpustakaan digital maka yang terbayang ialah bahwa koleksi dan jasa standar perpustakaan telah dialihkan sepenuhnya kedalam bentuk digital murni (Chouwdhury, 2008). Padahal dalam kenyataan sesungguhnya masih sedikit perpustakaan yang dapat disebut murni digital. Contoh American Memory pada Library of Congress merupakan sebuah perpustakaan digital namun Library of Congress sendiri yang menaunginya masih didominasi oleh koleksi nondigital alias dalam bentuk cetak. Istilah yang tepat ialah perpustakaan hibrida artinya perpustakaan yang merupakan gabungan antara koleksi digital dengan nondigital, namun karena karena penggunaan sehar-hari sudah melekat ke perpustakaan digital, maka istilah tersebut yang digunakan dalam abad informasi ini (Deagan and Tanner, 2002; Fox and Urs, 2002; Tedd and Large, 2005) .

Keunggulan perpustakaan digital

Dibandingkan dengan perpustakaan tradisional dalam arti peprustakaan yang terbatas pada gedung atau ruangan, maka perpustakaan digital memiliki keunggulan sebagai berikut:

Tidak memiliki batas fisik. Pemakai perpustakaan digital tidak perlu dating sendiri ke perpustakaan, dia cukup mengakses informasi dengan syarat ada sambungan Internet;
Ketersediaan akses. Akses informasi ke perpustakaan digital tersedia 24/7;
Multiakses. Sumber yang sama dapat diakses simultan oleh berbagai perpustakaan dan pemakai. Hal ini ada batasnya menyangkut materi perpustakaan berhak cipta. Pengecualian bila perpustakaan mengembangkan manajemen hak digital, pada sistem tersebut sumber daya tidak dapat diakses setelah waktu pinjaman lewat atau bila peminjamkan membuatnya tidak terakseskan. Ini sama saja dengan mengembalikan sumber informasi.
Temu balik. Pemakai dapat menggunakan berbagai ancangan istilah untuk menelusur seluruh koleksi, misalnya melalui kata, frasa, judul, nama, subjek. Perpustakaan digital mampu menyediakan antarmuka memudahkan pemakai, memungkinkan pemakai mengklik untuk mengakses sumber daya informasi.
Preservasi dan konservasi. Banyak materi perpustakaan yang mendekati tahap kerusakan total. Dapat dialihbentuk menjadi digital. Sehingga materi perpustakaan yang mendekati kerusakan dapat diselamatkan. Di segi lain, materi yang sudah didigitalkan akan bermasalah pada masa depan menyangkut perangkat keras dan perangkat lunak. Hal serupa dengan dokumen lahir digital artinya sejak saat penciptaan sudah berformat digital.
Wikipedia (2011) menyebutkan bahwa perpustakaan digital berpotensi menyimpan lebih banyak informasi karena memerlukan sedikit ruang untuk menyimpan informasi daripada perpustakaan tradisional yang dibatas dengan ruang dan tempat penyimpanan. Pendapat tersebut tidak selalu benar karena seorang rekan pernah bercerita bahwa sebuah perpustakaan tradisional yang berlantai 3 ketika koleksinya didigitalkan berubah menjadi 5 tingkat karena alat pendigital yang memerlukan ruang penyimpanan

Perpustakaan digital di Indonesia

Bila mengacu ke karangan Bush (1945) maka awal perpustakaan digital di Indonesia dimulai sejak komputer mulai digunakan di Indonesia. Bila mengacu ke pendapat Bush, maka perintis perpustakaan dimulai pada akhir tahun 1060 an atau awal 1970 an tatkala komputer mulai digunakan untuk automasi dafta majalah yang ada di beberapa perpustakaan Indonesia.

Bila melihat pemahaman perpustakaan digital sebagaimana telah disebutkan di atas, maka dewasa ini di Indonesia sudah terdapat perpustakaan digital, terutama di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi dan khusus. Perpustakaan PT rata-rata sudah memiliki situs web dengan laman masing-masing.
Kini banyak perguruan tinggi yang mewajibkan mahasiswa menyerahkan karya akhirnya dalam bentuk berkas lunak (soft files) ke perpustakaan, selanjutnya perpustakaan yang akan memasukkan ke server. Server ini dapat diakses oleh pihak luar dan akses serta sitiran yang dlakukan pihak luar akan menentukan peringkat universitas di lingkungan dunia.
Perpustakaan menghadapi masalah menyangkut boleh tidaknya dokumen yang ada di server dipindah berkas atau tidak; bila boleh apa saja yang boleh dipindah teks; bila seluruh dokumen dapat diunduh apa akibatnya. Tidak semua PT memiliki kebijakan yang membolehkan pemakai mengunduh seluruh dokumen. Yang sudah melakukannya antara lain ialah Universitas Kristen Petra di Surabaya.
Kemungkinan besar terjadinya plagiat. Dengan mudahnya mengunduh dokumen maka probablitas terjadinya plagiat semakin besar. Bagi PT yang mengizinkan pengunduhan secara bebas, mereka berpendapat bahwa bila ada karya PT yang dijiplak oleh orang lain, maka hal itu merupakan bukti bahwa karya PT tersebut benar-benar bagus sehingga dijiplak.. Pustakawan juga menghadapi dilema mengenai penjiplakan ini. Di sebuah PT sangat terkenal di Jakarta, seorang pustakawan pada tahun 2009 menemukan 8 jiplakan yang sangat bervariasi. Apa yang dapat dilakukan pustakawan dan perpustakaan PT hanyalah melaporkan hal tersebut ke pimpinan PT, selanjutnya terserah pada pimpinan PT tindakan apa yang dilakukannya. Lazimnya tindakan yang dilakukan diam-diam karena menjaga nama baik PT yang bersangkutan.
Perubahan perilaku pemakai. Sebenarnya ini tidak terjadi karena eksistensi perpustakaan digital melainkan akibat (buruk) Internet. Ini terjadi karena generasi Net menghendaki hasil penelusuran yang instan,
Perubahan pola pinjam antarperpustakaan. Salah satu contoh ADL (APTIK Digital Library) adalah layanan perpustakaan bersama dalam bentuk kerjasama antar perpustakaan jaringan perpustakaan APTIK dengan memanfaatkan teknologi informasi. Anggota ADL saat ini adalah seluruh perpustakaan dari 16 universitas katolik di seluruh Indonesia. Pinjam antarperpustakaan diselenggarakan melalui pengunduhan dokumen atau fotokopi. Yang baru ialah pengunduhan dokumen dengan pengiriman berkas elektronik ke pemakai. Mengenai pinjam antarperpustakaan (PAP) pola pengiriman materi perpustakaan berupa fotokopi hampir berlaku untuk seluruh Indonesia (Sulistyo, 20)
Munculnya generasi baru pemakai.

Keberadaan TI di komputer mulai akhir 1970 an memunculkan generasi pemakai yang baru disebut asli digital atau digital natives. (Levine & Gavranovic, 2010). Asli digital adalah pemakai yang lahir akhir 1970 an dan sesudahnya yang terbiasa dengan penggunaan TI. Istilah lain ialah Screenagers dan Millennials. Mungkin untuk Indonesia cocok bila dikaitkan dengan pemakai yang lahir pada akhir 1980 an mengingat baru pada 1990 an terjadi perubahan besar-besaran di dunia perpustakaan Indonesia dengan meruyaknya Internet si perpustakaan. Asli digital memiliki ciri, pertama mereka telah terkondisi dengan lingkungan eknologi digital sehingga selalu mengharapkan tanggapan segera atas telaah (inquiry) informasi (Robinson, 2008). Kedua mereka memilih akses acak atau nonlinear ke informasi, lebih suka memilih isi berbasis citra daripada tisi berbasis teks serta sudah terbiasa melakukan beberapa tugas sekaligus. Hal itu dapat diterangkan karena dalam penelusuran melalui Internet mengunkan pendekatan hypertext artinya tidak mencari secara urut atau runut melainkan meloncat dari satu topik ke topik lain yang sama. Ketiga,asli digital tidak sabar dengan sarana yang almbat dan lebih terstruktur untuk mencari informasi, mereka mengharapkan tanggapan yang instan dan kepuasan instan dengan teknologi yang digunakan.

Lawan dari asli digital adalah pendatang digital (digital immigrants) artinya pemakai yang tidak terbiasa dengan TI dalam kegiatan sehari-hari. Helsper dan Eynon membuktikan bahwa perbedaan generasi berkaitan dengan penguasaan TI dapat diatasi. Mereka membuktikan bahwa orang dewasa yang termasuk pendatang digital dapat menjadi asli digital, terutama dalam bidang pembelajaran, dengan meningkatkan ketrampilan dan pengalaman dalam interaksi dengan TI (Helsper& Eynon, 2010).

8. Pembelajar jarak jauh (distant learnes)

Di sini yang dimaksud adalah pemakai perpustakaan digital yang dapat dilayani walaupun mereka berada secara fisik jauh dari perpustakaan (Priyanto, 2011). Di Indonesia, pelayanan semacam ini yang diwujudkan dalam video pembelajaran, katalog induk untuk pPAP jarak jauh masih belum ada. Priyanto (2011) menyebutkan adanya cabang perpustakaan umum di mal perbelanjaan (shopping mall) di AS namun untuk Indonesia yang ada di mal lebih banyak Taman Bacaan Masyarakat, itu pun lebih ditujukan untuk anak-anak.

Dilihat dari segi katalog, maka perpustakaan Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya telah berhasil menyatukan katalog dari berbagai perpustakaan fakultas ke katalog inuk (universitas) sehingga pemakai di kampus dapat memeriksa koleksi perpustakaan di bagian lain kampus. Di UGM sudah ada proxy-server yang melayani kebutuhan pemakai dari kampus.

9. Tugas tambahan mengelola server.

Pengalaman di berbagai universitas, pimpinan Pt mengedarkan surat edaran yang meminta dosen untuk menyerahkan karyanya ke perpustakaan untuk disimpan di server. Bila dokumen tidak lahir digital maka diperlukn proses pendigital atau digitalisasi; bila dokumen sudah lahir digital langsung dapat dimasukkan ke server disertai dengan metada yang diperlukan. Tugas memasukkan ke server merupakan tugas tambahan yang tidak selalu dianggarkan oleh PT. Maka ada dokumen karya dosen yang belum masuk ke server dan imbasnya ialah server tidakdapat diakses oleh mesin pencari. Akibat lebih lanjut ialah peringkat PT Indonesia di Webometrics masih berkutat sekitar peringkat 500 an

Sitiran terhadap karya yang disimpan di server dilakukan oleh mesin pencari Google, Yahoo, Live Search dan Exalead. Pemeringkatan PT dilakukan oleh Times Higher Education, (sering disingkat THES), Shanghai Jiaotong University (dikenal Shanghai ranking) dan Webometrics.

Perbedaan dengan PT di luar negeri

Sebenarnya secara individu, pustakawan Indonesia tidak kalah dengan pustakawan asing. Banyak pustakawan Indonesia lulusan luar negeri yang memiliki kemampuan tidak kalah dengan pustakawan asing. Hanya saja bila kemampuan tersebut dikaitkan dengan institusi atau perpustakaan, maka pustakawan Indonesia akan jauh melorot kemampuannya. Perpustakaan PT di Indonesia masih belum memiliki anggaran yang sesuai standar. Pada banyak perguruan tinggi kelas dunia, anggaran perpustakaan sedikit-dikitnya 5% dari anggaran universitas sementara Indonesia baru mencantumkan penambahan koleksi sedikit-dikitnya 2% ari koleksi seluruhnya atau sedikit-dikitnya 200 judul (Standar Nasional Indonesia 2009).

Perpustakaan digital di negara lain sudah mulai menawarkan jasanya ke pemakai seperti Blog, informatika social semacam Facebook, Twsitetrs.

Tantangan bagi pustakawan

Perpustakaan digital merupakan lingkungan yang menantang bagi pustakawan. Dengan tiadanya jasa fisik yang diberikan, maka peran pustakawan berubah dari fasilitator antara pemakai dengan sumber day informasi menjadi fasiltator antara pemakai dengan sistem. Kepustakawanan dapat saja diganti dengan istilah lai n amun etos utamanya tetap yaitu jasa. Jasa tersebut adalah menyediakan muatan informasi (bahara) dalam cara yang paling sesuai bagi pemakai.

Tiga faset kepustakawanan adalah isi, jasa dan pemakai. Ada pun aktivitas utama pustakawan menurut Gorman (2000) adalah:

(1) Seleksi objek fisik dan sumber daya digital

(2) Akuisisi dengan pembelian, , langganan, hadiah, pertukaran dan mengunduh (download) dari internet.

(3) Organisasi dan akses: pengataklogan, klasifikasi, akses informasi terpasang

(4) Preservasi dan konservasi, sumber fisik dan digital.

(5) Jasa dan pelatihan pemakai, termasuk jasa referensi, peminjaman, pelatihan ketrampilan informasi bagi pemakai.

(6) Manajemen personalia, jasa dan organisasi perpustakaan.

Jasa yang diberikan perpustakaan bagi pemakai dilakukan di dunia fisik (di perpustakaan) mau pun duniadigital. Jasa dalam dunia digitakll tidak dibataso oleh fisik perpustakaan, isi yang diberikan dapat berbentuk fisik atau digital, lokal dan/atau jarak jauh dan maya. Sungguh pun demikian jasa perpustakaan tetap berbasis kerangka sosial dan institusional, dibentuk, dipengaruhi dan dibentuk ulang oleh perubahan sosial dan teknologi. Perubahan sosial meliputi pterubahan politik, ekonomi, penddidikan, hukum dsb., sedangkan perubahan teknologi dapat berupaperangkat keras komputer, fasilitas jejaring, perangkat lunak dan teknologi berkaita, alat, standar dll.
Ada pun aktivitas yang diuraikan di bawah ini.

Isi

Meliputi (i) manajemen koleksi termasuk seleksi isi dan akuisis;

(ii) Penciptaan isi meliputi digitalisasi dan atau menunjang penciptaan isi digital oleh pemakai dengan tangkapan nformasi menggunakan teknologi digital

(iii) Pengorganisasian dan pengolahan muatan isi termasuk klasifikasi, pengatalogan dan pengindeksan; temu balik informasi; arsitektur informasi dan aktivitas manajemen muatan isi.

(iv) Pengarsipan dan preservasi, artinya semua jenis sumber daya informasi, baik sumber daya fisik mau pun digital.

Jasa

Aktivitas dan isu jasa berkaitan dengan:

(i) Jasa pemakai, mulai dari peminjaman sampai jasa referensi

(ii) Manajemen dan pemasaran, termasuk manajemen suber daya dan proyek kegiatan, pemasaran jasa perpustakaan.

(iii) Kebijakan: pembuatan dan/atau implementasi yang sesuai dengan perubahan instiusional dan sosial,undang-undang dan peraturan baru,

(iv) Pengembangan jasa baru dan terpadu: disain dan pengembangan sistem dan jasa informasi baru termasuk layanan baru perpustakaan digital, integrasi jasa perpustakaan digital dengan berbagai bidang aplikasi seperti e-learning, manajemen pengetahuan.

Pemakai

Aktivitas dan/atau isu berkaitan dengan pemakai menyangkut:

(i) Pendidikan dan pelatihan pemakai termasuk pelatihan ketrampilan informasi, dab pelatihan untuk mempromosikdan dan atau menunjang jasa baru atau yang dimodifikasi.

(ii) Merancangbangun sistem dan jasa beroeintasi pemakai, termasuk disain dan pengembangan jasa yang cocok untuk ranah dan kelompok pemakai khas dan atau elompok pemakai dengan kebutuhan informasi khusus.

(iii) Kajian pemakai termasuk survei pemakai dan kajian perilaku informasi pemakai, ketergunaan dan evaluasi jasa perpustakaan dan informasi.

Hal lain

Pustakawan perlu memahami disain antarmuka, pengetahuan mengenai jenis data dan berkas,temu balik informasi dan sistem manajemen dokumen dan juga toolkit pemrogramamn Kerjasama dan teamwork menjadi lebih penting

Di samping itu ketrampilan tradisional masihdiperlulaan menyangkut manajemen kleksi, jasa peneydiaan anggaran dan jasa. Jasareferens kini berubah di samping jasa fisik referens juga jasa referens sambung jarring

Bentuk kontak seperti email, chat, Web 2, informatika sosial seperti Facebook, twitter.

Mengatasi kesenjangan generasi dengan menjadi asli digital di bidang pembelajaran melalui ketrampilan dan interaksi dengan TI. (Helsper & Eynon, 2010)

Pustakawan Indonesia perlu berubah dengan mengikuti perkembangan dan mungkin sedikit naïf ialah pustakawan perlu (banyak) membaca. Adalah ironis bahwa pustakawan sering menyelenggarakan program gemar membaca, namun pustakawan sendiri jarang atau tidak pernah membaca. Tuntutan membaca dalam dunia yang dijejali TI semakin berat karena Internet sedikit banyak menurunkan kebiasaan membaca. Pemakai Internet sering membaca 4 sampai 5 baris lalu pindah ke materi lain.

Penutup

Sebagai penutup perlu dipahami bahwa apa pun perpustakaan yang dikelola pustakawan Indonesia, apakah perpustakaan tradisional atau pun perpustakaan digital, hendaknya diingat pesan Lankes (2011) yang mengatakan bahwa konsep dasar yang menyebutkan

It is founded on the basic concept that knowledge is created through conversation; libraries being in the knowledge business are therefore in the conversation business. This concept, grounded in theory, leads to a new mission for librarians: The mission of librarians is to improve society through facilitating knowledge creation in their communities.

Hal itu dilakukan perpustakaan dengan mengacu pada tujuan perpustakaan berupa preservasi, pendidikan, dan informasi (Cossette, 2009)

Bibliografi

Deagan, M. and Tanner, S. (2002). Digital futures: strategies for the information age.

New York: Neal-Schuman

Fox, E.A. and Urs, S.R. (2002). Digital Libraries. Annual Review of Information Science

and Technology, 36,503-590

Tedd, L.A. and Large, A. (2005). Digital libraries: principles and practice in a global

environment. Amsterdam: K.G. Saur

Arms, William Y. Digital libraries. Cambridge, Mass. : The MIT Press, 2000.

Arnold, S.E. “Marketing electronic information: theory, practice and challenges 1980-

1990,” Annual review of information science and technology, 25, 11990:87-144

Baldwin, C. (1996). “Superjournals deliver the goods,” Library Association Record, 1

(2) : 37-8

Barker, P. (1994). “Electronic libraries: visions of the future,” The electronic library, 12

(4) :221-29

——-. (1996). “Living books and dynamic electronic libraries,” The electronic library 14

(6) :491-501

Batt, C. (1997).Information technology in public libraries. London: Library Association

Publishing

Bush, Vannervar. (1945). “As wer may think.”, Atlantic Monthly July,101-108

Chowdhury, G.G. and Chowdhury, Sudatta. (2002). Introduction to digital libraries.

London: Facet Publishing

Chouwdhury, G.G. (eds).( 2008). Librarianship: an introduction. London: Facet

Publishing

Cleveland, Gary (1998). Digital libraries: definitions, issues and challenges. IFLA UDT

Occasional Paper # 8

http://archiv.ifla.org/VI/5?op/udtop_8/udtop8.htm. Diakses 2 Mei 2011

Cossette, Andre. (2009). Humanism and libraries an essay on the philosophy of

librarianship. Transl. by Rory Liwin. Duluth,Minn.: Library Juicy Press.

DeWitt, Donald L.(1998). Going digital : strategies for access, preservation, and

conversion of collections to a digital format. New York : The Haworth Press

Fajar, Ida F. (2011). Kepustakawanan Indonesia, pemanfaatan teknologi informasi

dan posisi dikawasan ASEAN. Tak diterbitkan

Halliday, Leah and Oppenheim, Charles. (1999). Economic models of the digital library.

Loughborough: Loughborough University.

Hannah, Stan A. and Michael H. Harris. (1999). Inventing the future : information

services for a new millennium. Stamford, Conn. : Ablex

Hardesty, Larry.(2000). Books, bytes, and bridges : libraries and komputer centers in

academic institutions. Chicago : American Library Association

Helsper, Ellen Johanna and Eynon, Rebecca (2010) “Digital natives: where is the

evidence?” Britsih Educational Research Journal, Ju, 36,3. Abstrak

Hughes, Lorna. (2003). Digitizing collections: strategic issues for the information manager.

London: Facet Publishing

Johnson, Peggy. (2009). Fundamentalis of collection development and management.

Chicago: American Library Association

Johnson, Peggy and Bonnie MacEwan (eds). (1999)Virtually yours : models for

managing electronic resources and services : proceedings of the Joint reference and User Services Association and Association for Library Ciollections and Technical Services Institue, Chicago, Illinois, October 23-25, 1997. Chicago, Ill. :American Library Association, 1999.

Lankes, R.D. 2011. The atlas of new librarianship. Cambridge,Mass.: MIT Press and

ACRL.

Lankes, R.D..; Collins, J.W. and Kasowitz,A.s. (2000). Digital reference service in he new

millennium: planning, management and evaluation. New York: Neal-Schuman.

Lee, Stuart D. Digital imaging : a practical handbook. London : Library Association

Publihsing, 2001.

Levine, Emil and Gavranovic, Drahomira. (2010). LIDA 2010: digital libraries and

digital natives,Information Today, 23,24.

http://www.infotoday.com. Diunduh 30 April 2011

Lynch, C. and Garcia-Molina,H. Interoperability, scaling, and the digital libraries

research agenda : A report on the May 18-19, 1995. IITA Digital Libraries Workshop, August 1995. http://wwwdiglib.standford.edu/diglib/pub/reports/iita-dlw/

main.html

Priyanto, Ida F. (2011). International best practices of library spaces: an exciting

showcase of innovative.

Radford, Marie L. and Connaway, Lyan Silipigni. (2010). Digital natives meet digital

libraries: discovering thir behaviors and preferences for information seeking.

http://we.ffos.hr/lida/datoteke/lida_2010_proceedings.pdf Dipindah berkas 2 Mei 2011

Robinson, Michael. (20080. Digital nature and digital nurture: libraries, learning and

the digital native,Library Management, 12, ½,67-76

Standar Nasional Indonesia (2009): SNI 7330:2009 Perpustakaan perguruan tinggi.

Jakarta: Badan Standardisasi Nasional

Sulistyo-Basuki,L. (2007). Interlibrary loan in an archipelago nation: the case study

of Indonesia’s ILL activities with special reference to academic libraries

Tedd, Lucy and Large, . J. Andrew. (2004). Digital libraries: implementation and use

froma global perspectives. London: Saur

Todd, Ross. (2010). The problematic of natives and immigrants.

http://we.ffos.hr/lida/datoteke/lida_2010_proceedings.pdf Pindah berkas, 1

Mei 2011

Wikipedia, the free encyclopedia.”Digital library”.

http:em.wikipedia.org/wiki/Digital_libraries. Diakses 1 Mei 2011

Wajah Perpustakaan Masa Kini

Kalau mendengar kata perpustakaan, mungkin di benak sebagian besar orang akan langsung tergambar hal-hal berikut: ruangan yang berisi buku (bisa penuh bisa tidak), suasana hening (karena orang membaca atau tidak ada orang sama sekali), kondisi bukunya relatif baik (dijaga dengan baik atau karena tidak ada yang membaca), umur buku yang cukup tua. Biasanya lokasinya berada di sekolah atau perguruan tinggi. Kalau lebih baik dari gambaran tersebut, alhamdulillah. Kalau tidak lebih baik, ya tidak masalah, karena begitulah citra sebagian besar orang tentang perpustakaan. Kesan yang tradisional ini terus terbawa hingga kini yang zamannya sudah jauh berubah. Bahkan pengalaman saya mewawancarai beberapa orang lulusan ilmu perpustakaan menegaskan bahwa mereka pun tidak jauh lebih baik dari orang awam.

Beberapa pandangan tentang perpustakaan ini sudah saatnya diubah. Beberapa diantaranya :

(i) perpustakaan hanya milik orang sekolahan. selama ini perpustakaan dibuat memang hanya memenuhi kebutuhan anak sekolah, dan karena itu lokasinya pun ada di dalam sekolah. Sebenarnya perpustakaan adalah tempat siapa saja menimba ilmu. Oleh karena itu kategori bukunya pun boleh apa saja. selama suatu bacaan berisi pengetahuan, maka layak bacaan tersebut berada di perpustakaan. Yang tidak kalah pentingnya, perpustakaan bukan hanya untuk orang dewasa. Jauh lebih efektif kalau perpustakaan sudah diperkenalkan sejak dini.

(ii) mengenai lokasi, mengingat point(i), maka sebaiknya perpustakaan berada dekat dengan lokasi pemukiman. Dengan demikian, jika masyarakat sekitarnya ada waktu luang, mereka dapat menghabiskan waktunya dengan membaca atau aktivitas lainnya.

(iii) kegiatan yang dapat dilakukan di perpustakaan tidak hanya membaca. di sana orang juga dapat berdialog, berdiskusi asal tidak mengganggu pengunjung lainnya. Tidak salah jika di perpustakaan terdapat fasilitas bermain untuk anak-anak balita agar mereka pun dapat bermain selagi orang tuanya membaca.

(iv) fasilitas perpustakaan juga tidak kalah penting. Jika ada komputer, terlebih lagi internet, maka koleksi perpustakaan akan menjadi tak terhingga. Kita dapat belajar tentang apa saja, kapan saja, tanpa terikat dengan batas geografis, usia, suku dsb.

SIngkat kata, perpustakaan sudah selayaknya diposisikan sebagai tempat orang menimba pengetahuan lewat berbagai media, bukan ruangan tempat menyimpan dan membaca buku.perpustakaan digital

Pentingnya Budaya Membaca

Pentingnya Budaya Membaca.

Budayakan Membaca Sejak Dini

Orangtua mana yang tidak senang, saat melihat anaknya rajin belajar tanpa disuruh. Hampir semua orangtua berharap anak-anak mereka mau belajar sendiri, tanpa harus dipaksa, dibujuk dengan susah payah, atau harus bertengkar terlebih dahulu. Sebagai orangtua, Anda juga berharap begitu, bukan?

Sebenarnya, budaya “belajar” mandiri berawal dari kebiasaan membaca sejak dini. Orangtua yang membiasakan anak-anaknya membaca sejak dini usia, akan memetik buah yang sangat manis; anak-anak mereka cenderung lebih mudah belajar, tidak malas, dan senang membaca. Seakan-akan, buku adalah sahabat dan teman bermain yang mengasyikkan bagi mereka.

Sayangnya, tidak banyak orangtua yang menyadari pentingnya membaca sejak dini usia ini. Mereka cenderung bersantai-santai pada awalnya, dan menyerahkan semuanya kepada sekolah, sambil menunggu “hasil”. Hingga pada akhirnya, mereka baru akan tersadarkan setelah melihat hasil belajar putra-putri mereka yang jauh dari harapan.

Setelah melihat hasil yang kurang memuaskan ini, akhirnya orangtua mencari cara agar anak-anak mau belajar. Tidak jarang yang menggunakan cara-cara pemaksaan, hukuman, jadwal les yang padat, yang mayoritas itu bukannya menambah keinginan dan semangat anak untuk belajar, tapi malah membuat mereka jenuh belajar. Nah, lo…kalau sudah begitu, repot juga, kan?

Membudayakan membaca dan menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Bahkan sangat melelahkan! Mengapa? Karena aktivitas ini akan menyita banyak waktu, menguras energi dan pikiran kita sebagai orangtua. Tapi, sekali lagi, jangan jadi orangtua kalau Anda tidak mau capek!!

Saya terkenang dengan ibu saya. Sejak saya kecil, saya dan abang saya dibiasakan dengan buku. Sebelum tidur, kami dibacakan berbagai macam buku cerita. Aktivitas sehari-hari pun, kami akrab dengan buku. Kebetulan, kakek dan nenek kami adalah penilik sekolah, dan suatu hari mereka mengirimi kami satu peti buku bacaan. Isinya? Ratusan!! Kami semakin memperkaya perpustakaan pribadi kami dengan koleksi buku-buku tersebut.

Ibu mendidik saya bukan dengan “harus” membaca. Tapi, ibu membuat saya senang bermain dengan buku. Dan akhirnya, saya pun bersahabat baik dengan buku. Bahkan saat makan, saya selalu menyempatkan sambil membaca buku. Hambar rasanya jika makan tanpa buku yang menemani. Saya berkacamata minus tiga pun, itu akibat saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membaca buku, meski sambil tiduran. Sampai kini, saya hampir menjadi seorang ibu pun, kebiasaan itu melekat pada saya.

Budaya membaca buku itu mengantarkan saya kepada kebiasaan belajar mandiri. Saya menjadi kaya akan kata, dan membuat saya mencintai dunia menulis. Hal itu didukung dengan daya khayal saya yang tinggi. Terciptalah dongeng-dongeng, puisi-puisi, cerpen-cerpen hasil khayalan saya.

Banyak orangtua tidak menyadari pentingnya hal ini dalam dunia anak-anak mereka. Saat kecil, mereka memang mungkin belum menunjukkan prestasi gemilang alias nilai-nilai yang terbaik. Adanya ketidakstabilan dalam dunia anak-anak, seringkali membuat mereka lebih cenderung “hidup” di dunia khayal mereka.Kita sering mengecap mereka “pengkhayal”, dan pada akhirnya menyuruh mereka untuk berhenti melakukan hal tersebut.

Yang seharusnya orangtua lakukan bukanlah menyetop atau menyuruh mereka “berhenti”. Namun memberikan mereka arahan dan bimbingan, kemana mereka seharusnya melangkah. Disusul kemudian motivasi untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Hasilnya? KEAJAIBAN LUAR BIASA!!

Anda pernah melihat penulis-penulis cilik yang usianya belum genap 10 tahun, namun sudah menghasilkan banyak karya? Nah, jika Anda mampu mengembangkan potensi tersebut dari putra-putri Anda, maka Anda telah melakukan sebuah investasi berharga. Percayakah, bahwa putra-putri Anda bisa lebih baik dari mereka semua? Tentu harus!

Kecerdasan pertama kali dibangun oleh kemampuan berbahasa seorang anak. Dan kemampuan membaca ini berawal dari kebiasaan membaca. Anak-anak yang banyak membaca, mereka akan memiliki pengetahuan, wawasan yang lebih banyak daripada anak-anak lain yang tidak suka membaca.

Membudayakan membaca sejak dini, bukan berarti memaksa mereka untuk serius sampai mengerutkan kening. Tapi, membuat mereka mencintai buku, seperti mereka mencintai bermain.

Budaya membaca sejak dini ini bisa Anda mulai sejak ia dalam kandungan Anda. Pada usia 7 bulan, janin sudah dapat mendengar suara-suara di sekitar ibunya. Tidak ada salahnya, Anda membaca buku keras-keras, sambil mengajaknya berbicara.
Saat si kecil lahir, Anda bisa mengenalkan budaya membaca dengan kartu-kartu dan permainan edukatif. Bukankah anak-anak suka bermain? Nah, jangan halangi kesenangan mereka ini. Namun, buatlah improvisasi, dimana anak-anak bisa belajar membaca sambil bermain. Asyik, bukan?

Pena Pustakawan

Heru wibowo

Komunitas Slims Kudus

Bersama Mewujudkan Perpustakaan Unggulan