Perpustakaan Nasional Kalah Saing Berburu Naskah Kuno Dari Kolektor

Kasubid Perawatan dan Pemeliharaan Bahan Pustaka PNRI, Made Ayu Wirayati mengakui, sering kalah saing dalam berburu naskah kuno dengan kolektor asal luar negeri.

“Kita memang sering kalah saing dengan mereka, karena keterbatasan anggaran, mereka kan dananya lebih besar dan selalu siap setiap saat, sedangkan kita harus melalui proses panjang pengajuan proposal anggaran dan sebagainya,” kata Kasubid Perawatan dan Pemeliharaan Bahan Pustaka PNRI, Made Ayu Wirayati di Pangkalpinang, Selasa.

Ayu menjelaskan, sejak beberapa tahun Perpustakaan Nasional tidak memiliki anggaran pelestarian naskah kuno sehingga tidak bisa berburu dan mendapatkan naskah kuno yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

“Baru beberapa tahun terakhir ada anggaran untuk itu, tapi sekali lagi anggaran tersebut masih jauh dari yang dibutuhkan,” kata dia.

Sebagai contoh, Ayu menceritakan tentang kisah perburuan sebuah manuskrip di Aceh yang gagal karena warga yang memiliki manuskrip tersebut lebih memilih menjualnya pada kolektor asing.

“Saat itu, pemilik naskah meminta kita membangunkan sebuah masjid di sana, tapi kita tidak punya dana dan hanya sanggup membelikan mesin cuci sebagai gantinya, lalu datang seorang kolektor luar negeri yang menawarkan membangun masjid megah di sana untuk mendapat naskah itu,” kata Ayu.

Sementara itu, Kabid Teknik Penjilidan Bahan Pustaka PNRI, Mulatsis Susilorini menambahkan, idealnya tersedia setidaknya Rp300 juta untuk pelestarian naskah kuno di daerah-daerah.

“Seperti terakhir yang kami lakukan di Ambon, kami membutuhkan sekitar Rp400 juta untuk mendapatkan naskah tersebut,” kata dia.

Susilorini meminta masyarakat agar melaporkan jika memiliki atau mengetahui keberadaan naskah kuno kepada kantor arsip daerah untuk selanjutnya dikonservasi oleh PNRI.

“Naskah kuno merupakan benda yang sangat penting bagi bangsa kita karena itu adalah warisan budaya dan intelektual dari para leluhur kita, jadi harus dijaga dan pelihara dengan baik,” kata dia, seperti dikutip dari kompas.com (30/10/12).

Jika masyarakat enggan menyerahkan naskah asli untuk disimpan di PNRI, Susilorini menjelaskan naskah bisa tetap disimpan setelah PNRI melakukan alihmedia.

“Kami akan mengalihmediakan dan menyimpan copian dari naskah tersebt, sementara naskah asli diserahkan kembali ke pemilik,” kata dia.

Saat ini sedikitnya 26 ribu manuskrip kuno Indonesia ada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Angka tersebut belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain.

Sementara itu, Perpustakaan Nasional RI hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno. Dengan kata lain, dokumen penting yang kini berada di Leiden 2,5 kali lipat lebih banyak dibanding yang berada tanah air.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pena Pustakawan

Heru wibowo

Komunitas Slims Kudus

Bersama Mewujudkan Perpustakaan Unggulan

%d blogger menyukai ini: