Perpustakaan Digital Di Indonesia: sebuah pandangan

Oleh : Sulistyo-Basuki

Pengajar Program Pascasarjana di Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, dan UIN Sunan Kalijaga. e-mail: sbasuki@indosat.net.id)

Disampaikan dalam Seminar Nasional Ilmu Perpustakaan Undip di Semarang tanggal 5 Mei 2011, diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Undip

Pendahuluan

GagasanVannevar Bush mengenai mesin Memex merupakan gagasan awal perpustakaan digital dalam karangan tersebut dinyatakan bahwa dengan menyentuh sebuah tombol saja maka seorang pemakai dapat mencari informasi yang diinginkannya (Bush, 1945). Gagasan itu berkembang seiring dengan kemajuan teknologi. Dengan masuknya komputer ke perpustakaan, maka perpustakaan beranjak ke automasi perpustakaan selanjutnya mengembangkan pangkalan data. Pangkalan digunakan pemakai dalam bentuk temu balik terpasang (sambung jarring,online) serta sistem akses public. Kedua ciri tersebut merupakan bagian sehari-hari dari kegiatan perpustakaan. Tatkala komputer dihubungkan dengan jaringan yang besar membentuk Internet, maka muncul gagasan perpustakaan digital yang dapat diakses dari seluruh penjuru dunia. Muncullah istilah perpustakaan maya, perpustakaan elektronik, perpustakaan tanpa tembok dan perpustakaan digital. Untuk memahami konsep sebutan tersebut, digunakan dua pendekatan yaitu pendekatan definisi dan pendekatan citri, namun sebelum itu perlu dipahami hal-hal yang sering dirancukan dengan perpustakaan digital.

Hal yang perlu dipahami

Sebelum melanjutkan ke perpustakaan digital di Indonesia, ada baiknya kita memahami beberapa pemahaman. Pemahaman pertama perpustakaan terautomasi bukanlah perpustakaan digital. Sebuah perpustakaanyang mendayagunakan teknologi informasi (TI) atau teknologi informasi dan komunikasi untuk melakasanakan aktivitas perpustakaan, bukanlah perpustakaan digital. Kegiatan aplikasi TI pada perpustakaan menghasilkan automasi perpustakaan artinya penggunaan teknologi yang lebih dominan daripada manusia dalam kegiatannya. Misalnya bagian sirkulasi cukup memindai nomor ISBN atau nomor unik buku (misalnya 2778/1999) ke komputer, selanjutnya komputer yang akan mengolah lebih lanjut. Demikian juga waktu peminjaman, nomor ISBN atau nomor unik cukup dipindai, selanjutnya komputer yang mengolahnya, termasuk misalnyaa pakah ada kelambatan pengembalian buku; bila ada, berapa dendanya, dimasukkan ke anggaran siapa. Automasi lebih lanjut dari sistem sirkulasi adalah penggunaan RFID (Radio Frequency Identication), berupa pencantuman cip berfrekeunsi tertentu sebagai alat pemantau peminjamand an pengembalian. RFID sudah digunakan di Jawa Tengah antara lain di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sampai saat ini RFID masih terbatas pada materi cetak, sementara untuk materi elektronik seperti DVD VD,CD ROM masih terbatas[2].

Pemahaman kedua, perpustakaan yang sudah memikiki fasilitas Internet bukanlah

perpustakaan digital. Ada anggapan masyarakat termasuk pemangku kepentingan seperti kepala sekolah, Dinas Pendidikan, pejabat pemerintah bahwa bila internet sudah diinstal, maka perpustakaan tersebut sudah merupakan perpustakan digital. Fasilitas Internet memungkinkan pemakai (atau pemustaka menurut UU no. 43 tahun 2007) menggunakan Intternet untuk berbagai keperluan seperti menelusur,ngobrol (chatting) kirim surat elektronik,mengunduh berkas. Fasilitas Internet bisaa saja diinstal di perpustakaan tradisional tanpa menjadikan perpustakaan tersebut perpustakaan digital.

Pemahaman ketiga, penjaja pangkalan data atau pemasok dokumen komersial, pangkalan data serta jasa pengantaran dokumen elektronik serta perpustakaan digital miliknya bukanlah perpustakaan digital. Maka bila perpustakaan melanggana sebuah penjaja seperti ProQuest atau EBSCO, maka perpustakaan tersebut tidak dapat disebut perpustakaan digital.

Pemahaman keempat¸ sistem manajemen dokumen yang mengolah dokumen bisnis dalam bentuk dokumen elektroniktidak dapat disebut perpustakaan digital. Sistem tersebut merupakan manajemen rekod, bukan perpustakaan.

Pemahaman perpustakaan digital

Pemahaman perpustakaan digital dapat dilihat dari definisi mau pun dari segi karakteristiknya. Walaupun memiliki kesamaan dalam istilah digital, definisi perpustakaan digital tidaklah seragam. Dari segi etimologi, perpustakaan sebagai kumpulan pustaka (buku), maka sebuah perpustakaan dalam bahasa modern dapat bermakna kumpulan apa saja misalnya perangkat lunak.

Pendekatan definisi

Setiap perpustakaan berbeda, setiap perpustakaan digital berlainan dan berbagai penulis mengajukan berbagai definisi mengenai perpustakaan digital. Misalnya Arms (2000, ) memberikan definisi perpustakaan digital sebagai berikut:

A managed collection of information, with associated services where the

information is stored in digital formats and accessible over a network. A crucial part of this definition is that the information is managed

Digital Library Federation dari AS mengatakan bahwa

“Digital libraries are organizations that provide the resources, including
the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to,
interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence
over time of collections of digital works so that they are readily and
economically available for use by a defined community or set of
communities.” http://www.clir.org/diglib/about/strategic.htm.%5BAkses Oktober 2002) (Greenstein, 2000)

Perpustakaan elektronik

Dalam berbagai literatur tidak semua pihak menyetujui istilah perpustakaan digital, ada yang menyebutnya sebagai perpustakaan elektronik (Rowley 1998). Oppenheim (1997) menyatakannya sebagai

An organized and managed collection of information in a variety of media

(text, still image, moving image, sound, or combinatios thereof), but all in digital form.

Koleksi diorganisasi dan dikelola untuk kepentingan populasi pemakai aktual atau potensial, dan lazimnya distruktur untuk memudahkan akses ke isinya. Biasanya, perpustakaan elektronik meliputi sejumlah alat bantu teklusur atau navigasi yang akan beroperasi di perpustakaan dan memungkinkan akses ke koleksi infomasi yang dihubungkan dengan jaringan sedunia (Rowley 1998)

Perpustakaan hibrida

Penulis lain seperti Corrall & Brewester (1999) berpendapat bahwa

karena perpustakaan digital juga mencakup koleksi cetak yang diwujudkan dalam bentuk data analog maka mereka menyebutnya sebagai perpustakaan hibrida (hybrid libraries). Rusbridge (1998) mengatakan

Hybrid libraries are designed to bring a range of technologies from

different sources together in the context of a working library, and also to begin to explore integrated systems and services in both the electronic and print environments

Dengan kata lain pada perpustakaan hibrida, sumber elektrobnik atau artefak digital digunakan bersama-sama sumber teercetak (heritage materials) sehingga jasa informasi merupakan campuran media tradisional dan media lebih baru. Anggapan adanya perpustakaan hibrida diperkuat oleh kenyataan bahwa tidak semua perpustakaaan akan didigitalisasikan sehingga tidak mengherankan bila Bropy (2001) menyebutnya sebagai “complex libraries.” Keberadaan perpustakaan hibrida bukan merupakan sebuah fase transisi melainkan lebih merupakan model tersendiri.

Perpustakaan maya

Istilah yang berkembang ialah perpustakaan maya (virtual library) namun demikian ada yang berpendapat bahwa secara semantik istilah virtual berbeda dengan istilah digital library (Koeneman 2002). Perpustakaan maya mencoba menciptaulang pengalaman sebuah perpustakaan dalam format elektronik sedangkan perpustakaan digital memusatkan pada penciptaan dan akses ke koleksi elektronik (suara, teks atau citra) dengan menggunakan berbagai teknologi informasi. Koleksi digital memegang peran lebih penting daripada aspek maya atau portal.

Perpustakaan tanpa tembok (libraries without wall)

Definisi mengarah pada pengertian bahwa pemakai dapat mengakses koleksi di perpustakaan lain di luar dinding tempat pemakai berada, bahkan dalam beberapa hal pemakai dapat mengunduh[3] (download) teks atau berkas. Jadi seorang pemakai yang berada di Kendal dapat mengakses koleksi perpustakaan di Jerman atau Pakistan atau tempat lain.

Dari segi ciri

Bila dilihat dari segi notion, maka syarat perpustakaan digital bila memenuhi syarat sebagai berikut:

Perpustakaan digital merupakan wajah digital dari perpustakaan digital, jadi mencakup koleksi digital dan koleksi tradisional, disebut pula koleksi media campuran ( Cleveland, 1998)
Perpustakaan digital juga mencakup koleksi materi digital yang eksis di luar batas fisik dan administrative sebuah perpustakaan digital. Karena itu US Digital Library Federation mennyebutkan perpustakaan digital sebagai sebuah organisasi yang terdiri dari beberapa perpustakaan digital, jadi tidak terbatssd pada satu perpustakaan digital saja
Pemakai yang dapat tersebar dan beranekaragam namun berminat pada koleksi perpustakaan. Perpustakaan digital melayani komunitas pemakai, namun tidak terbatass pada kawasan administrative sebuah perpustakaan melainkan meluas ke seluruh dunia.
Tenaga perpustakaan yang kurang berperan dalam pengantaran jasa, menggantinya degan interaksi langsung dengan pemakai melalui pengembangan jasa digital dan rancangbangun (desain) antarmuka (Chouwdhury, 2008).

Dalam benak masyarakat dan juga pustakawan, bila menjumpai istilah perpustakaan digital maka yang terbayang ialah bahwa koleksi dan jasa standar perpustakaan telah dialihkan sepenuhnya kedalam bentuk digital murni (Chouwdhury, 2008). Padahal dalam kenyataan sesungguhnya masih sedikit perpustakaan yang dapat disebut murni digital. Contoh American Memory pada Library of Congress merupakan sebuah perpustakaan digital namun Library of Congress sendiri yang menaunginya masih didominasi oleh koleksi nondigital alias dalam bentuk cetak. Istilah yang tepat ialah perpustakaan hibrida artinya perpustakaan yang merupakan gabungan antara koleksi digital dengan nondigital, namun karena karena penggunaan sehar-hari sudah melekat ke perpustakaan digital, maka istilah tersebut yang digunakan dalam abad informasi ini (Deagan and Tanner, 2002; Fox and Urs, 2002; Tedd and Large, 2005) .

Keunggulan perpustakaan digital

Dibandingkan dengan perpustakaan tradisional dalam arti peprustakaan yang terbatas pada gedung atau ruangan, maka perpustakaan digital memiliki keunggulan sebagai berikut:

Tidak memiliki batas fisik. Pemakai perpustakaan digital tidak perlu dating sendiri ke perpustakaan, dia cukup mengakses informasi dengan syarat ada sambungan Internet;
Ketersediaan akses. Akses informasi ke perpustakaan digital tersedia 24/7;
Multiakses. Sumber yang sama dapat diakses simultan oleh berbagai perpustakaan dan pemakai. Hal ini ada batasnya menyangkut materi perpustakaan berhak cipta. Pengecualian bila perpustakaan mengembangkan manajemen hak digital, pada sistem tersebut sumber daya tidak dapat diakses setelah waktu pinjaman lewat atau bila peminjamkan membuatnya tidak terakseskan. Ini sama saja dengan mengembalikan sumber informasi.
Temu balik. Pemakai dapat menggunakan berbagai ancangan istilah untuk menelusur seluruh koleksi, misalnya melalui kata, frasa, judul, nama, subjek. Perpustakaan digital mampu menyediakan antarmuka memudahkan pemakai, memungkinkan pemakai mengklik untuk mengakses sumber daya informasi.
Preservasi dan konservasi. Banyak materi perpustakaan yang mendekati tahap kerusakan total. Dapat dialihbentuk menjadi digital. Sehingga materi perpustakaan yang mendekati kerusakan dapat diselamatkan. Di segi lain, materi yang sudah didigitalkan akan bermasalah pada masa depan menyangkut perangkat keras dan perangkat lunak. Hal serupa dengan dokumen lahir digital artinya sejak saat penciptaan sudah berformat digital.
Wikipedia (2011) menyebutkan bahwa perpustakaan digital berpotensi menyimpan lebih banyak informasi karena memerlukan sedikit ruang untuk menyimpan informasi daripada perpustakaan tradisional yang dibatas dengan ruang dan tempat penyimpanan. Pendapat tersebut tidak selalu benar karena seorang rekan pernah bercerita bahwa sebuah perpustakaan tradisional yang berlantai 3 ketika koleksinya didigitalkan berubah menjadi 5 tingkat karena alat pendigital yang memerlukan ruang penyimpanan

Perpustakaan digital di Indonesia

Bila mengacu ke karangan Bush (1945) maka awal perpustakaan digital di Indonesia dimulai sejak komputer mulai digunakan di Indonesia. Bila mengacu ke pendapat Bush, maka perintis perpustakaan dimulai pada akhir tahun 1060 an atau awal 1970 an tatkala komputer mulai digunakan untuk automasi dafta majalah yang ada di beberapa perpustakaan Indonesia.

Bila melihat pemahaman perpustakaan digital sebagaimana telah disebutkan di atas, maka dewasa ini di Indonesia sudah terdapat perpustakaan digital, terutama di lingkungan perpustakaan perguruan tinggi dan khusus. Perpustakaan PT rata-rata sudah memiliki situs web dengan laman masing-masing.
Kini banyak perguruan tinggi yang mewajibkan mahasiswa menyerahkan karya akhirnya dalam bentuk berkas lunak (soft files) ke perpustakaan, selanjutnya perpustakaan yang akan memasukkan ke server. Server ini dapat diakses oleh pihak luar dan akses serta sitiran yang dlakukan pihak luar akan menentukan peringkat universitas di lingkungan dunia.
Perpustakaan menghadapi masalah menyangkut boleh tidaknya dokumen yang ada di server dipindah berkas atau tidak; bila boleh apa saja yang boleh dipindah teks; bila seluruh dokumen dapat diunduh apa akibatnya. Tidak semua PT memiliki kebijakan yang membolehkan pemakai mengunduh seluruh dokumen. Yang sudah melakukannya antara lain ialah Universitas Kristen Petra di Surabaya.
Kemungkinan besar terjadinya plagiat. Dengan mudahnya mengunduh dokumen maka probablitas terjadinya plagiat semakin besar. Bagi PT yang mengizinkan pengunduhan secara bebas, mereka berpendapat bahwa bila ada karya PT yang dijiplak oleh orang lain, maka hal itu merupakan bukti bahwa karya PT tersebut benar-benar bagus sehingga dijiplak.. Pustakawan juga menghadapi dilema mengenai penjiplakan ini. Di sebuah PT sangat terkenal di Jakarta, seorang pustakawan pada tahun 2009 menemukan 8 jiplakan yang sangat bervariasi. Apa yang dapat dilakukan pustakawan dan perpustakaan PT hanyalah melaporkan hal tersebut ke pimpinan PT, selanjutnya terserah pada pimpinan PT tindakan apa yang dilakukannya. Lazimnya tindakan yang dilakukan diam-diam karena menjaga nama baik PT yang bersangkutan.
Perubahan perilaku pemakai. Sebenarnya ini tidak terjadi karena eksistensi perpustakaan digital melainkan akibat (buruk) Internet. Ini terjadi karena generasi Net menghendaki hasil penelusuran yang instan,
Perubahan pola pinjam antarperpustakaan. Salah satu contoh ADL (APTIK Digital Library) adalah layanan perpustakaan bersama dalam bentuk kerjasama antar perpustakaan jaringan perpustakaan APTIK dengan memanfaatkan teknologi informasi. Anggota ADL saat ini adalah seluruh perpustakaan dari 16 universitas katolik di seluruh Indonesia. Pinjam antarperpustakaan diselenggarakan melalui pengunduhan dokumen atau fotokopi. Yang baru ialah pengunduhan dokumen dengan pengiriman berkas elektronik ke pemakai. Mengenai pinjam antarperpustakaan (PAP) pola pengiriman materi perpustakaan berupa fotokopi hampir berlaku untuk seluruh Indonesia (Sulistyo, 20)
Munculnya generasi baru pemakai.

Keberadaan TI di komputer mulai akhir 1970 an memunculkan generasi pemakai yang baru disebut asli digital atau digital natives. (Levine & Gavranovic, 2010). Asli digital adalah pemakai yang lahir akhir 1970 an dan sesudahnya yang terbiasa dengan penggunaan TI. Istilah lain ialah Screenagers dan Millennials. Mungkin untuk Indonesia cocok bila dikaitkan dengan pemakai yang lahir pada akhir 1980 an mengingat baru pada 1990 an terjadi perubahan besar-besaran di dunia perpustakaan Indonesia dengan meruyaknya Internet si perpustakaan. Asli digital memiliki ciri, pertama mereka telah terkondisi dengan lingkungan eknologi digital sehingga selalu mengharapkan tanggapan segera atas telaah (inquiry) informasi (Robinson, 2008). Kedua mereka memilih akses acak atau nonlinear ke informasi, lebih suka memilih isi berbasis citra daripada tisi berbasis teks serta sudah terbiasa melakukan beberapa tugas sekaligus. Hal itu dapat diterangkan karena dalam penelusuran melalui Internet mengunkan pendekatan hypertext artinya tidak mencari secara urut atau runut melainkan meloncat dari satu topik ke topik lain yang sama. Ketiga,asli digital tidak sabar dengan sarana yang almbat dan lebih terstruktur untuk mencari informasi, mereka mengharapkan tanggapan yang instan dan kepuasan instan dengan teknologi yang digunakan.

Lawan dari asli digital adalah pendatang digital (digital immigrants) artinya pemakai yang tidak terbiasa dengan TI dalam kegiatan sehari-hari. Helsper dan Eynon membuktikan bahwa perbedaan generasi berkaitan dengan penguasaan TI dapat diatasi. Mereka membuktikan bahwa orang dewasa yang termasuk pendatang digital dapat menjadi asli digital, terutama dalam bidang pembelajaran, dengan meningkatkan ketrampilan dan pengalaman dalam interaksi dengan TI (Helsper& Eynon, 2010).

8. Pembelajar jarak jauh (distant learnes)

Di sini yang dimaksud adalah pemakai perpustakaan digital yang dapat dilayani walaupun mereka berada secara fisik jauh dari perpustakaan (Priyanto, 2011). Di Indonesia, pelayanan semacam ini yang diwujudkan dalam video pembelajaran, katalog induk untuk pPAP jarak jauh masih belum ada. Priyanto (2011) menyebutkan adanya cabang perpustakaan umum di mal perbelanjaan (shopping mall) di AS namun untuk Indonesia yang ada di mal lebih banyak Taman Bacaan Masyarakat, itu pun lebih ditujukan untuk anak-anak.

Dilihat dari segi katalog, maka perpustakaan Universitas Indonesia dan Universitas Brawijaya telah berhasil menyatukan katalog dari berbagai perpustakaan fakultas ke katalog inuk (universitas) sehingga pemakai di kampus dapat memeriksa koleksi perpustakaan di bagian lain kampus. Di UGM sudah ada proxy-server yang melayani kebutuhan pemakai dari kampus.

9. Tugas tambahan mengelola server.

Pengalaman di berbagai universitas, pimpinan Pt mengedarkan surat edaran yang meminta dosen untuk menyerahkan karyanya ke perpustakaan untuk disimpan di server. Bila dokumen tidak lahir digital maka diperlukn proses pendigital atau digitalisasi; bila dokumen sudah lahir digital langsung dapat dimasukkan ke server disertai dengan metada yang diperlukan. Tugas memasukkan ke server merupakan tugas tambahan yang tidak selalu dianggarkan oleh PT. Maka ada dokumen karya dosen yang belum masuk ke server dan imbasnya ialah server tidakdapat diakses oleh mesin pencari. Akibat lebih lanjut ialah peringkat PT Indonesia di Webometrics masih berkutat sekitar peringkat 500 an

Sitiran terhadap karya yang disimpan di server dilakukan oleh mesin pencari Google, Yahoo, Live Search dan Exalead. Pemeringkatan PT dilakukan oleh Times Higher Education, (sering disingkat THES), Shanghai Jiaotong University (dikenal Shanghai ranking) dan Webometrics.

Perbedaan dengan PT di luar negeri

Sebenarnya secara individu, pustakawan Indonesia tidak kalah dengan pustakawan asing. Banyak pustakawan Indonesia lulusan luar negeri yang memiliki kemampuan tidak kalah dengan pustakawan asing. Hanya saja bila kemampuan tersebut dikaitkan dengan institusi atau perpustakaan, maka pustakawan Indonesia akan jauh melorot kemampuannya. Perpustakaan PT di Indonesia masih belum memiliki anggaran yang sesuai standar. Pada banyak perguruan tinggi kelas dunia, anggaran perpustakaan sedikit-dikitnya 5% dari anggaran universitas sementara Indonesia baru mencantumkan penambahan koleksi sedikit-dikitnya 2% ari koleksi seluruhnya atau sedikit-dikitnya 200 judul (Standar Nasional Indonesia 2009).

Perpustakaan digital di negara lain sudah mulai menawarkan jasanya ke pemakai seperti Blog, informatika social semacam Facebook, Twsitetrs.

Tantangan bagi pustakawan

Perpustakaan digital merupakan lingkungan yang menantang bagi pustakawan. Dengan tiadanya jasa fisik yang diberikan, maka peran pustakawan berubah dari fasilitator antara pemakai dengan sumber day informasi menjadi fasiltator antara pemakai dengan sistem. Kepustakawanan dapat saja diganti dengan istilah lai n amun etos utamanya tetap yaitu jasa. Jasa tersebut adalah menyediakan muatan informasi (bahara) dalam cara yang paling sesuai bagi pemakai.

Tiga faset kepustakawanan adalah isi, jasa dan pemakai. Ada pun aktivitas utama pustakawan menurut Gorman (2000) adalah:

(1) Seleksi objek fisik dan sumber daya digital

(2) Akuisisi dengan pembelian, , langganan, hadiah, pertukaran dan mengunduh (download) dari internet.

(3) Organisasi dan akses: pengataklogan, klasifikasi, akses informasi terpasang

(4) Preservasi dan konservasi, sumber fisik dan digital.

(5) Jasa dan pelatihan pemakai, termasuk jasa referensi, peminjaman, pelatihan ketrampilan informasi bagi pemakai.

(6) Manajemen personalia, jasa dan organisasi perpustakaan.

Jasa yang diberikan perpustakaan bagi pemakai dilakukan di dunia fisik (di perpustakaan) mau pun duniadigital. Jasa dalam dunia digitakll tidak dibataso oleh fisik perpustakaan, isi yang diberikan dapat berbentuk fisik atau digital, lokal dan/atau jarak jauh dan maya. Sungguh pun demikian jasa perpustakaan tetap berbasis kerangka sosial dan institusional, dibentuk, dipengaruhi dan dibentuk ulang oleh perubahan sosial dan teknologi. Perubahan sosial meliputi pterubahan politik, ekonomi, penddidikan, hukum dsb., sedangkan perubahan teknologi dapat berupaperangkat keras komputer, fasilitas jejaring, perangkat lunak dan teknologi berkaita, alat, standar dll.
Ada pun aktivitas yang diuraikan di bawah ini.

Isi

Meliputi (i) manajemen koleksi termasuk seleksi isi dan akuisis;

(ii) Penciptaan isi meliputi digitalisasi dan atau menunjang penciptaan isi digital oleh pemakai dengan tangkapan nformasi menggunakan teknologi digital

(iii) Pengorganisasian dan pengolahan muatan isi termasuk klasifikasi, pengatalogan dan pengindeksan; temu balik informasi; arsitektur informasi dan aktivitas manajemen muatan isi.

(iv) Pengarsipan dan preservasi, artinya semua jenis sumber daya informasi, baik sumber daya fisik mau pun digital.

Jasa

Aktivitas dan isu jasa berkaitan dengan:

(i) Jasa pemakai, mulai dari peminjaman sampai jasa referensi

(ii) Manajemen dan pemasaran, termasuk manajemen suber daya dan proyek kegiatan, pemasaran jasa perpustakaan.

(iii) Kebijakan: pembuatan dan/atau implementasi yang sesuai dengan perubahan instiusional dan sosial,undang-undang dan peraturan baru,

(iv) Pengembangan jasa baru dan terpadu: disain dan pengembangan sistem dan jasa informasi baru termasuk layanan baru perpustakaan digital, integrasi jasa perpustakaan digital dengan berbagai bidang aplikasi seperti e-learning, manajemen pengetahuan.

Pemakai

Aktivitas dan/atau isu berkaitan dengan pemakai menyangkut:

(i) Pendidikan dan pelatihan pemakai termasuk pelatihan ketrampilan informasi, dab pelatihan untuk mempromosikdan dan atau menunjang jasa baru atau yang dimodifikasi.

(ii) Merancangbangun sistem dan jasa beroeintasi pemakai, termasuk disain dan pengembangan jasa yang cocok untuk ranah dan kelompok pemakai khas dan atau elompok pemakai dengan kebutuhan informasi khusus.

(iii) Kajian pemakai termasuk survei pemakai dan kajian perilaku informasi pemakai, ketergunaan dan evaluasi jasa perpustakaan dan informasi.

Hal lain

Pustakawan perlu memahami disain antarmuka, pengetahuan mengenai jenis data dan berkas,temu balik informasi dan sistem manajemen dokumen dan juga toolkit pemrogramamn Kerjasama dan teamwork menjadi lebih penting

Di samping itu ketrampilan tradisional masihdiperlulaan menyangkut manajemen kleksi, jasa peneydiaan anggaran dan jasa. Jasareferens kini berubah di samping jasa fisik referens juga jasa referens sambung jarring

Bentuk kontak seperti email, chat, Web 2, informatika sosial seperti Facebook, twitter.

Mengatasi kesenjangan generasi dengan menjadi asli digital di bidang pembelajaran melalui ketrampilan dan interaksi dengan TI. (Helsper & Eynon, 2010)

Pustakawan Indonesia perlu berubah dengan mengikuti perkembangan dan mungkin sedikit naïf ialah pustakawan perlu (banyak) membaca. Adalah ironis bahwa pustakawan sering menyelenggarakan program gemar membaca, namun pustakawan sendiri jarang atau tidak pernah membaca. Tuntutan membaca dalam dunia yang dijejali TI semakin berat karena Internet sedikit banyak menurunkan kebiasaan membaca. Pemakai Internet sering membaca 4 sampai 5 baris lalu pindah ke materi lain.

Penutup

Sebagai penutup perlu dipahami bahwa apa pun perpustakaan yang dikelola pustakawan Indonesia, apakah perpustakaan tradisional atau pun perpustakaan digital, hendaknya diingat pesan Lankes (2011) yang mengatakan bahwa konsep dasar yang menyebutkan

It is founded on the basic concept that knowledge is created through conversation; libraries being in the knowledge business are therefore in the conversation business. This concept, grounded in theory, leads to a new mission for librarians: The mission of librarians is to improve society through facilitating knowledge creation in their communities.

Hal itu dilakukan perpustakaan dengan mengacu pada tujuan perpustakaan berupa preservasi, pendidikan, dan informasi (Cossette, 2009)

Bibliografi

Deagan, M. and Tanner, S. (2002). Digital futures: strategies for the information age.

New York: Neal-Schuman

Fox, E.A. and Urs, S.R. (2002). Digital Libraries. Annual Review of Information Science

and Technology, 36,503-590

Tedd, L.A. and Large, A. (2005). Digital libraries: principles and practice in a global

environment. Amsterdam: K.G. Saur

Arms, William Y. Digital libraries. Cambridge, Mass. : The MIT Press, 2000.

Arnold, S.E. “Marketing electronic information: theory, practice and challenges 1980-

1990,” Annual review of information science and technology, 25, 11990:87-144

Baldwin, C. (1996). “Superjournals deliver the goods,” Library Association Record, 1

(2) : 37-8

Barker, P. (1994). “Electronic libraries: visions of the future,” The electronic library, 12

(4) :221-29

——-. (1996). “Living books and dynamic electronic libraries,” The electronic library 14

(6) :491-501

Batt, C. (1997).Information technology in public libraries. London: Library Association

Publishing

Bush, Vannervar. (1945). “As wer may think.”, Atlantic Monthly July,101-108

Chowdhury, G.G. and Chowdhury, Sudatta. (2002). Introduction to digital libraries.

London: Facet Publishing

Chouwdhury, G.G. (eds).( 2008). Librarianship: an introduction. London: Facet

Publishing

Cleveland, Gary (1998). Digital libraries: definitions, issues and challenges. IFLA UDT

Occasional Paper # 8

http://archiv.ifla.org/VI/5?op/udtop_8/udtop8.htm. Diakses 2 Mei 2011

Cossette, Andre. (2009). Humanism and libraries an essay on the philosophy of

librarianship. Transl. by Rory Liwin. Duluth,Minn.: Library Juicy Press.

DeWitt, Donald L.(1998). Going digital : strategies for access, preservation, and

conversion of collections to a digital format. New York : The Haworth Press

Fajar, Ida F. (2011). Kepustakawanan Indonesia, pemanfaatan teknologi informasi

dan posisi dikawasan ASEAN. Tak diterbitkan

Halliday, Leah and Oppenheim, Charles. (1999). Economic models of the digital library.

Loughborough: Loughborough University.

Hannah, Stan A. and Michael H. Harris. (1999). Inventing the future : information

services for a new millennium. Stamford, Conn. : Ablex

Hardesty, Larry.(2000). Books, bytes, and bridges : libraries and komputer centers in

academic institutions. Chicago : American Library Association

Helsper, Ellen Johanna and Eynon, Rebecca (2010) “Digital natives: where is the

evidence?” Britsih Educational Research Journal, Ju, 36,3. Abstrak

Hughes, Lorna. (2003). Digitizing collections: strategic issues for the information manager.

London: Facet Publishing

Johnson, Peggy. (2009). Fundamentalis of collection development and management.

Chicago: American Library Association

Johnson, Peggy and Bonnie MacEwan (eds). (1999)Virtually yours : models for

managing electronic resources and services : proceedings of the Joint reference and User Services Association and Association for Library Ciollections and Technical Services Institue, Chicago, Illinois, October 23-25, 1997. Chicago, Ill. :American Library Association, 1999.

Lankes, R.D. 2011. The atlas of new librarianship. Cambridge,Mass.: MIT Press and

ACRL.

Lankes, R.D..; Collins, J.W. and Kasowitz,A.s. (2000). Digital reference service in he new

millennium: planning, management and evaluation. New York: Neal-Schuman.

Lee, Stuart D. Digital imaging : a practical handbook. London : Library Association

Publihsing, 2001.

Levine, Emil and Gavranovic, Drahomira. (2010). LIDA 2010: digital libraries and

digital natives,Information Today, 23,24.

http://www.infotoday.com. Diunduh 30 April 2011

Lynch, C. and Garcia-Molina,H. Interoperability, scaling, and the digital libraries

research agenda : A report on the May 18-19, 1995. IITA Digital Libraries Workshop, August 1995. http://wwwdiglib.standford.edu/diglib/pub/reports/iita-dlw/

main.html

Priyanto, Ida F. (2011). International best practices of library spaces: an exciting

showcase of innovative.

Radford, Marie L. and Connaway, Lyan Silipigni. (2010). Digital natives meet digital

libraries: discovering thir behaviors and preferences for information seeking.

http://we.ffos.hr/lida/datoteke/lida_2010_proceedings.pdf Dipindah berkas 2 Mei 2011

Robinson, Michael. (20080. Digital nature and digital nurture: libraries, learning and

the digital native,Library Management, 12, ½,67-76

Standar Nasional Indonesia (2009): SNI 7330:2009 Perpustakaan perguruan tinggi.

Jakarta: Badan Standardisasi Nasional

Sulistyo-Basuki,L. (2007). Interlibrary loan in an archipelago nation: the case study

of Indonesia’s ILL activities with special reference to academic libraries

Tedd, Lucy and Large, . J. Andrew. (2004). Digital libraries: implementation and use

froma global perspectives. London: Saur

Todd, Ross. (2010). The problematic of natives and immigrants.

http://we.ffos.hr/lida/datoteke/lida_2010_proceedings.pdf Pindah berkas, 1

Mei 2011

Wikipedia, the free encyclopedia.”Digital library”.

http:em.wikipedia.org/wiki/Digital_libraries. Diakses 1 Mei 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Pena Pustakawan

Heru wibowo

Komunitas Slims Kudus

Bersama Mewujudkan Perpustakaan Unggulan

%d blogger menyukai ini: